Senin, 11 Januari 2010

implementasi dan Integrasi Aplikasi Learning Management System dan Grid Computing untuk Meningkatkan Efektifitas Online Course

Artikel ini menyajikan hasil penelitian
yang dilakukan terhadap integrasi dan
pemanfaatan aplikasi grid computing dan
Learning Management System (LMS).
Dalam paper ini membahas tentang
Modular Object Oriented Learning
Environment (MOODLE) sebagai salah
satu LMS open source yang menggunakan
standar SCORM, Access Grid, Alchemi,
dan serta kemungkinan kedua aplikasi grid
tersebut untuk digunakan sebagai
pendukung e-learning. Proses perancangan,
pengembangan, implementasi, dan
integrasi aplikasi LMS, dengan
menggunakan MOODLE, dan aplikasi grid
computing (Access Grid dan Alchemi) telah
berhasil dilakukan. Pada evaluasi kinerja
sistem tersebut didapatkan bahwa video
streaming pada Access Grid menunjukkan
performansi yang lebih baik dari pada IE
Netmeeting, dengan delay 7.17 – 8.15 ms
untuk Access Grid dan 22.01-28.06 ms
untuk Netmeeting.
Kata kunci: E-Learning, grid computing,
online course, video conference,
standarisasi, komputasi

1. Pendahuluan

Sesuai dengan berkembangnya
kebutuhan pada sestem e-learning yang
terintegrasi dan reliable, saat ini banyak
aplikasi LMS (komersial maupun
opensource) yang dikembangkan untuk
mendukung sistem pengajaran. Umumnya
setiap aplikasi tersebut dikembangkan
secara berbeda sehingga sangat sulit untuk
mengintegrasikannya agar dapat saling
melengkapi satu sama lain. Dilain pihak,
masing-masing aplikasi LMS tersebut
berpotensi untuk dapat saling melengkapi.
Oleh karena itu, diperlukan standarisasi
sebagai panduan dalam proses
pengembangannya agar interoperabilitas
pada aplikasi LMS dapat dilakukan dengan
mudah dan cepat.
Grid Computing adalah sarana untuk
memanfaatkan sumber daya yang
terdistribusi menyelesaikan masalah
komputasi yang kompleks dan
membutuhkan sumber daya komputasi yang
kompleks. Grid computing memiliki
potensi yang sangat besar untuk dapat
membantu proses belajar terutama untuk
aplikasi-aplikasi yang membutuhkan daya
komputasi yang sangat besar. Aplikasiaplikasi
yang dapat memanfaatkan
infrastruktur grid seperti ini sangat
beragam. Sebagai contoh, misalnya untuk
melakukan simulasi terhadap masalahmasalah
kompleks, penyediaan database
yang besar untuk sains, atau bahkan untuk
melakukan proses rendering gambar 3D,
dsb. Pemanfaatan grid untuk hal-hal seperti
ini memiliki pengaruh yang sangat besar
pada metoda pengajaran bahkan mungkin
akan jauh melampaui keadaaannya saat ini.
Pada komunitas grid sendiri,
pemanfaatan grid dibidang pendidikan,
mulai menjadi topik yang hangat
dibicarakan. Sebagai contoh, di Eropa,
implementasi grid untuk lingkungan
pendidikan mulai diteliti oleh Learning
Grid of Excellent Working Group (LeGEWG)
dan Learning GRID SIG [1]. LeGEWG
adalah lembaga riset yang didirikan
oleh European commission untuk
memfasilitasi pengembangan infrastruktur
grid dibidang pendidikan. Sementara
Learning GRID SIG lebih berfokus kepada
penelitian implementasi grid untuk
lingkungan belajar masa depan.
Paper ini selanjutnya akan membahas
pengembangan aplikasi LMS dan grid
computing untuk lingkungan belajar online
dengan memanfaatkan Modular Object
Oriented Learning Environment
(MOODLE), Access Grid, dan Alchemi.
Selain itu disajikan pula hasil yang
diperoleh dari proses evaluasi terhadap
seluruh sistem yang tersebut.

2. Standarisasi E-Learning
Arsitektur web service dianggap cukup
baik untuk e-learning meskipun terdapat
beberapa kekurangan dalam hal skalabilitas,
availabilitas, dan keterbatasan resource.
Terlepas dari permasalahan tersebut,
kemampuannya dalam hal menangani
pertukaran informasi dengan cepat, sangat
layak untuk diperhitungkan. Oleh karena
itu, arsitektur web service ini mungkin saja
dapat menjadi cara yang sangat ampuh
sebagai media penyampaian informasi.
Untuk mempercepat pengembangan
aplikasi-aplikasi e-learning ini, pada
November 1997, pemerintah Amerika
Serikat melalui Department of Defense
(DoD) dan White House Office of Science
and Technology Policy (OSTP) telah
membentuk suatu badan khusus yang diberi
nama Advance Distributed Learning (ADL)
[2,3]. ADL ini dibentuk dari sekumpulan
individu ataupun institusi yang secara
kolaboratif bekerja bersama-sama dengan
memanfaatkan teknologi informasi untuk
dapat memodernisasi struktur belajar yang
ada saat ini. Hasil kolaborasi yang
membentuk ADL ini secara bersama-sama
mengembangkan standar, tools dan
learning content untuk lingkungan belajar
masa depan.
Sharable Content Object Reference
Model (SCORM) adalah standar e-learning
yang dikeluarkan ADL dalam upayanya
untuk mulai menyeragamkan pengembangan
sistem e-learning berbasiskan
teknologi web yang disebut Learning
Management Systems (LMS) [2,3].
SCORM menggunakan pendekatan object
oriented dan memandang setiap learning
object atau content object sebagai
sekumpulan objek yang dapat disatukan
untuk membangun suatu sistem yang lebih
besar. Setiap content object yang
didefinisikan oleh SCORM akan bersifat
sharable dan dapat ditambahkan dengan
mudah kepada setiap komponen pelajaran
(course) yang membutuhkannya sehingga
LMS tersebut dapat disesuaikan dengan
kebutuhan. SCORM juga memungkinkan
integrasi antar LMS yang berbeda karena
setiap sistem yang dibuat dengan mengikuti
standar SCORM akan selalu compatible
satu sama lain. Disamping itu, SCORM
memungkinkan pengembangan LMS dapat
dilakukan dengan mudah tanpa perlu
memperhatikan sistem secara keseluruhan.
Dengan demikian, SCORM memungkinkan
skalabilitas pada pengembangan LMS.
Sampai saat ini terdapat tiga versi
SCORM yang telah dibuat oleh ADL.
Masing-masing versi tersebut akan terus
berkembang dan mengalami perubahan.
Ketiga versi SCORM tersebut SCORM
1.1, SCORM 1.2, dan SCORM 2004 yang
juga dapat dianggap SCORM versi 1.3.[3]
Ketiga versi SCORM tersebut walaupun
agak berbeda namun tetap disusun
berdasarkan konsep yang sama yaitu tetap
memenuhi syarat Accessibility,
Adaptability, Affordability, Durability,
Interoperability, danReusability [2,3].

3. Infrastruktur Grid Computing
Visi grid pada awalnya adalah
menyediakan infrastruktur untuk
penggunaan dari high performance
networking, komputasi, dan software yang
sinergis sehingga akses terhadap berbagai
resource dapat dilakukan tanpa mengenal
batas [4]. Akan tetapi, definisi ini kemudian
menjadi tidak sesuai lagi, karena saat ini
grid bahkan telah berkembang jauh
melebihi visi tersebut. Pengembangan grid
computing saat ini lebih dititikberatkan
kepada manajemen infrastruktur yang dishare
di dalam lingkungan grid. Didalam
komunitas (virtual organization) ini, setiap
orang harus mengikuti aturan yang telah
ditetapkan berkaitan dengan penggunaan
resource yang di-share.
Desain arsitektur grid computing
sebenarnya mengadopsi konsep service
oriented yang kemudian diwujudkan
melalui Open Grid Services Architecture
(OGSA). OGSA adalah suatu rancangan
untuk arsitektur grid yang berfungsi
memberikan standar pada grid computing.
Untuk mendukung implementasi yang telah
ditetapkan pada OGSA, maka dibentuklah
Open Grid Services Infrastructure Working
Group (OGSI-WG). Tim ini mengeluarkan
versi pertama spesifikasi OGSI (spesifikasi
OGSI v1.0) pada 27 Juni 2003. Paradigma
yang dipergunakan dalam konsep OGSI
pada grid computing kemudian berubah
dengan munculnya Web Service Resource
Framework (WSRF) pada Januari 2004 [5].
Meskipun demikian, beberapa hal didalam
OGSI masih dapat dipergunakan oleh
WSRF. Melalui WSRF ini, komunitas web
service harus menyediakan dukungan yang
kuat terhadap pembentukan infrastruktur
grid.

4. Desain dan Implementasi
Proses implementasi dilakukan dengan
mengintegrasikan MOODLE dengan
Access Grid dan Alchemi. Gambar 1
menunjukkan hasil implementasi situs elearning
pada Access Grid yang telah
dilakukan. MOODLE dipilih untuk proses
implementasi e-learning karena aplikasi ini
memiliki dokumentasi yang baik sehingga
memudahkan pengembangannya lebih
lanjut. Disamping itu, fasilitas pendukung
pada MOODLE tergolong sangat lengkap
untuk membangun sebuah portal elearning.
Gambar 1. Implementasi e-learning
dengan memanfaatkan Access Grid
Gambar 2. Flowchart modul literatur
Penambahan fasilitas literature pada
MOODLE saat melakukan implementasi
dilakukan dengan tujuan untuk melengkapi
fasilitas-fasilitas yang telah tersedia pada
MOODLE. Proses pengembangannya
dilakukan dengan menggunakan algoritma
seperti pada Gambar 2. Fungsi fasilitas ini
pada dasarnya adalah memberikan
informasi mengenai literature yang dapat
digunakan untuk membantu proses belajar.
Proses perhitungan nilai yang diambil
dari MOODLE dilakukan dengan
menggunakan sistem Alchemi. Konfigurasi
sistem Alchemi ini dapat dilihat pada
Gambar 3. Algoritma dari proses komputasi
dengan Alchemi ini dapat dilihat pada
Gambar 4. Implementasi Alchemi dapat
dilakukan melalui .NET Common
Language Runtime (.NET CLR) [6,7].
Bahasa pemrograman yang digunakan
untuk membangun sistem Alchemi adalahC#.

5. Diskusi Hasil Implementasi
Evaluasi terhadap performa sistem yang
telah dibangun dengan menggunakan
MOODLE, Access Grid, dan Alchemi
bertujuan untuk mengetahui performansi
dan efisiensi ketiganya pada saat
diintegrasikan. Untuk tujuan pengamatan
N
Y
Y
N
N
Y
Start
End
Authentication
Process
Admin?
Add new item
Add?
Literature
lookup
Edit
literature
Edit?
konektifitas dan data transfer rate pada saat
mengakses portal e-learning, dengan
meperbandingkan Access Grid dengan
internet explorer (IE). Untuk sistem
komunikasinya, Net Meeting digunakan
sebagai pembanding fasilitas video
conference pada Access Grid.
Executor
Manager
Owner
Database
Gambar 3. Konfigurasi sistem Alchemi
untuk komputasi nilai.
Dari penelitian yang telah dilakukan, ratarata
waktu yang diperlukan untuk
mengakses portal e-learning yang dibuat
dengan confidence interval 95% adalah
antara 40.26 and 44.21 detik sementar delay
transmisi adalah antara 0.26 – 0.28 detik.
Rata-rata transmisi data untuk 20 pengujian
adalah sebesar 3.69 paket/det dan rata-rata
throughput-nya adalah 0.014 Mbit/det.
Gambar 5 adalah grafik yang dihasilkan
dari pengujian delay transmisi dan
kecepatan akses melalui IE.
Untuk pengujian yang sama dengan
menggunakan Access Grid, tools ini
memberikan hasil yang lebih baik dalam
hal melakukan akses portal e-learning.
Untuk confidence interval 95%, rata-rata
waktu akses dengan menggunakan fasilitas
applications session pada Access Grid
adalah antara 17.47 – 27.78 detik dan delay
transmisi adalah antara 0.28 – 0.44 detik
dengan rata-rata throughput 0.027 Mbit/s
dan data rate transmission sebesar 4.24
pakets/det. Gambar 6 memperlihatkan
grafik yang dihasilkan pada pengujian ini.
Hal yang sama juga diperoleh dari
fasilitas service pada Access Grid. Untuk
95% confidence interval, rata-rata waktu
akses dengan menggunakan fasilitas ini
adalah antara 19.62 – 32.57 detik dan delay
transmisi berada pada interval 0.33 – 0.51
detik dengan rata-rata throughput sebesar
0.019 Mbit/det dan delay transmisi sebesar
3.24 pakets/det. Gambar 7 menunjukkan
grafik yang diperoleh dari pengujian ini.
Meskipun Access Grid memiliki
performa yang baik dalam hal melakukan
pengaksesan, aplikasi ini juga memiliki
permasalahan yang cukup signifikan.
Access Grid memerlukan tambahan waktu
pada saat mengeksekusi kedua aplikasinya
tersebut. Masalah ini perlu dicarikan
solusinya karena tambahan waktu pada saat
start up time-nya memperlambat waktu
akses apabila dilakukan melalui aplikasi ini.
Selain dua aplikasi ini, pengujian dengan
Access Grid juga dilakukan untuk
mengamati kemampuannya dalam hal video
conference. Hal ini dilakukan dengan
membandingkannya dengan Net Meeting.
Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan dua buah komputar yaitu PC
WS05 dan WS06. Lama waktu setiap
pengambilan datanya adalah 30 detik.
Pengujian ini menunjukkan bahwa Access
Grid juga memiliki performa yang lebih
baik untuk video conference. Untuk
confidence interval 95%, delay transmisi
pada Access Grid untuk WS05 adalah 7.2 –
8.6 ms dengan rata-rata throughput 0.899
Mbit/det dan data rate transmission 131.25
packets/s. Disisi lain, range transmisi untuk
WS06 adalah 7.4 –8.8 ms dengan rata-rata
throughput sebesar 0.869 Mbit/det dan data
rate transmission sebesar 127.45 paket/det.
Gambar 8 adalah grafik yang dihasilkan
dari pengujian aplikasi ini.
Pada kondisi yang sama pengujian
dengan menggunakan Net Meeting
menunjukkan hasil yang lebih buruk. Untuk
confidence interval 95%, pengujian delay
pada WS05 memberikan hasil 28.7 –30.4
ms dengan rata-rata throughput sebesar
0.107 Mbit/s dan data rate transmission
sebesar 51.62 paket/det. Hal yang sama
terjadi pula pada WS06. Delay transmisinya
berada pada interval 22.0 –28.0 ms dengan
rata-rata throughput sebesar 0.170 Mbit/s
dan data rate transmission sebesar 43.80
paket/det. Gambar 9 adalah grafik yang
dihasilkan dari pengujian ini.
Gambar 4. Flowchart untuk perhitungan
nilai melalui Alchemi.
Performa yang baik untuk video
conference pada Access Grid
dimungkinkan karena tool ini
memanfaatkan VIC, yaitu encoding dan
decoding video berbasis protocol H.261
untuk menangani video streaming.
Sementara untuk audio, Access Grid
menggunakan Robust Audio Tools (RAT),
yang mendukung berbagai jenis kualitas
codec untuk komunikasi audio melalui
Internet (misalnya; G.711 (64 kbps), Wide-
Band Adaptive Differential Pulse Code
Modulation (Wide-band ADPCM) (~32
kbps), Full Rate GSM (13 kbps), dan
Linear Predictive Coding (LPC) (5,6 kbps))
[4].
Gambar 10 memperlihatkan IO graph
pada Alchemi. Grafik ini diperoleh pada
saat sistem Alchemi mengeksekusi job yang
diberikan oleh owner kepadanya. Evaluasi
performa hanya berpengaruh secara
signifikan pada proses komputasi yang
kompleks. Karena data yang diperoleh dari
portal e-learning yang dibuat tidak cukup
kompleks untuk diterapkan pada parallel
processing, paper ini hanya akan membahas
komunikasi data yang dilakukan pada
Alchemi.
23
28
33
38
43
48
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Experiment-
Time
Transmission time
Upper confidence inte rval
Lowe r confidence interval
0,16
0,18
0,2
0,22
0,24
0,26
0,28
0,3
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Experiment-
Delay (s)
Transmission's delay
Upper confidence interval
Lower confidence interval
Gambar 5. Rate delay transmisi IE dan
kecepatan akses
0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
0,9
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Experiment-
Delay (s) Access delay
Upper convidence interval
Lower convidence interval
Gambar 6. Delay transmisi application
session pada Access Grid
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Experiment-
Delay (s)
Access delay
Upper convidence interval
Lower convidence interval
Gambar 7. Delay transmisi service pada
Access Grid
Y
N
Y
N
Y
Start
End
Retrieve all data
Finish?
Save value?
Compute
grade
N
End data
column?
Another
data row?
0,0059
0,0069
0,0079
0,0089
0,0099
0,0109
0,0119
0,0129
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Experiment-
Delay (s)
PC-ws06
PC-ws05
WS06 upper confidence interval
WS06 lower confidence interval
WS05 upper confidence interval
WS05 lower confidence interval
Gambar 8. Kinerja video conference pada
Access Grid
0,0135
0,0185
0,0235
0,0285
0,0335
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Experiment-
Delay (s)
PC-ws06
PC-ws05
WS05 upper confidence interval
WS05 lower confidence interval
WS06 upper confidence interval
WS06 lower confidence interval
Gambar 9. Kinerja video conference pada
Net Meeting
Gambar 10. Grafik IO graph untuk
komunikasi data Alchemi’s
Pada tahap awal eksekusi, owner akan
memecah job-job yang masing-masing
dapat dieksekusi secara independent.
Kemudian, job-job tersebut di distribusikan
ke seluruh executor yang ada. Grafik yang
berwarna biru adalah komunikasi data yang
terjadi dari owner menuju manager, grafik
hitam adalah komunikasi data dari manager
menuju executor, sementara grafik yang
berwarna merah adalah job hasil yang
dikirimkan kembali kepada manager. Pada
proses ini manager harus melakukan
monitor terhadap seluruh executor yang
ada. Oleh karena itu, seluruh informasi
mengenai executor harus tersimpan pada
database pada manager. Pada implementasi
dan pengujian ini, Alchemi telah berhasil
digunakan untuk melakukan perhitungan
nilai rata-rata mahasiswa, untuk
diintegrasikan dengan proses di Moodle.

6. Kesimpulan
Pengujian video streaming pada Access
Grid menunjukkan performa yang lebih
baik jika dibandingkan dengan Net
Meeting. Untuk 95% confidence interval,
delay transmisinya adalah sebesar 7.17 -
8.15 ms sementara dengan Net Meeting
adalah sebesar 22.01 – 28.06 ms pada
kondisi yang sama.

7. Acknowledgement
Program dalam kerangka besar ‘Grid
Computing for e-science’ ini didukung oleh
program Hibah Bersaing 2005 dan
dilakukan di Mercator Multimedia
Laboratory, FTUI..

SISTIM INTEGRASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT ( SIMRS )

Manfaat SIMRS :


a. Manfaat Umum

Memberikan nilai tambah dengan meningkatkan:

  • Efisiensi
  • Kemudahan
  • Standard praktek kedokteran yang baik dan benar
  • Dokumentasi yang Auditable dan Accountable
  • Mendukung Pemasaran Jasa RS: Mutu, kecepatan, kenyamanan, kepastian, biaya, bahkan gengsi pelayanan
  • Meningkatkan profesionalisme dan kinerja manajemen rumah sakit
  • Mendukung koordinasi antar bagian dalam rumah sakit
  • Meningkatkan akses dan pelayanan rumah sakit terhadap berbagai sumber daya, antara lain mitra usaha potensial seperi Pedagang Besar Farmasi, JAMSOSTEK, Instansi/Perusahaan pemberi jaminan karyawannya, ASKES, dll
  • Meningkatkan profesionalisme manajemen rumah sakit:

1. Setiap unit akan bekerja sesuai fungsi, tanggung jawab dan wewenangnya;

a. Fungsi Pelayanan dan Informasi

b. Fungsi Perawatan (medical care)

c. Fungsi Penunjang/Supporting

d. Fungsi Administrasi dan Keuangan

e. Fungsi Pengawasan, dll

2. Mendukung kerja sama, keterkaitan dan koordinasi antar bagian / unit dalam rumah sakit.

Contoh:

  1. Unit Registrasi dengan Unit RM dalam hal Petugas RM dapat mengetahui secara real time pasien yang mendaftar di bag Registrasi.
  2. Unit Registrasi dengan Unit Rawat Jalan.
  3. Koordinasi antara Unit Rawat Jalan / Rawat Inap dengan Unit Apotik/Farmasi dalam hal Resep Online dan informasi lainnya.
  4. Koordinasi antara Unit Rawat Jalan / Rawat Inap dengan Unit Laboratorium, Radiologi, IBS, Gizi, Farmasi, dan Keuangan dan sebaliknya
  • Meningkatkan pendapatan rumah sakit.

b. Manfaat Operasional

Kecepatan

Manfaat yang paling terasa ketika SIMRS tersebut selesai diimplementasikan adalah kecepatan penyelesaian pekerjaan-pekerjaan administrasi. Ketika dengan sistem manual pengerjaaan tagihan kepada mitra/pihak ke-3, misalnya, memakan waktu sampai 1 bulan sejak pasien selesai dilayani, dengan SIMRS hanya memakan waktu 1-2 hari saja. Kecepatan ini tentu saja membuat efektifitas kerja meningkat. Pada awal pemasangan SIM, ketika aliran kerja belum lancar, peningkatan kecepatan belum terlalu terasa. Namun ketika komitmen seluruh unit untuk tepat waktu memasukkan data dengan akurasi entri data yang tinggi dipenuhi, maka akan terasa sekali dampak dari SIMRS terhadap kecepatan kerja.

Akurasi

Hal lain yang juga terasa berubah adalah akurasi data, apabila dulu dengan sistem manual orang harus mencek satu demi satu transaksi, namun sekarang dengan SIMRS hal tersebut cukup dilakukan dengan membandingkan laporan antar unit yang dihasilkan oleh SIM. SIMRS juga dapat mencegah terjadinya duplikasi data untuk transaksi-transaksi tertentu. Misalnya, pasien yang sama diregistrasi 2 kali pada hari yang sama, maka SIMRS akan menolaknya, SIMRS juga akan memberikan peringatan jika tindakan yang sama untuk pasien yang sama dicatat 2 kali, hal ini menjaga agar user lebih teliti.

Integrasi

Hal lain yang juga terasa berpengaruh terhadap budaya kerja adalah integrasi data di setiap unit. Bila dengan sistem manual, data pasien harus dimasukkan di setiap unit, maka dengan SIMRS data tersebut cukup sekali dimasukkan di pendaftaran saja. Hal ini jelas mengurangi beban kerja adminstrasi dan menjamin konsistensi data. Ilustrasi pada awal makalah ini merupakan gambaran proses integrasi pada beberapa unit layanan di rumah sakit.

Peningkatan pelayanan

Pengaruh SIMRS yang dirasakan oleh pasien adalah semakin cepat dan akuratnya pelayanan. Sekarang pasien tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan administrasinya, baik rawat inap ataupun rawat jalan. Hal yang sama juga dirasakan perusahaan pelanggan, dimana tagihan yang dikirim cukup akurat dan detil sehingga memudahkan analisa mereka.

Peningkatan Efisiensi

Bila sebelumnya, beban pekerjaan lebih ke arah klerikal, sekarang beban pekerjaan lebih ke arah analisa. Sebagai contoh, jika dahulu konsentrasi bagian penagihan adalah membuat tagihan, sekarang konsentrasinya lebih kepada umur tagihan itu sendiri. Selain itu, karena kecepatan dan akurasi data meningkat, maka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan administrasi berkurang jauh, sehingga karyawan dapat lebih fokus pada pekerjaan utamanya.

Tanpa SIM, perawat harus memasukan data standar asuhan keperawatan secara berulang-ulang dan sangat memakan waktu, tetapi dengan SIM, perawat hanya tinggal memasukan data diagnosa penyakit pasien, dan komputer yang akan mencetak laporan SAK untuk ditanda-tangani perawat.

Kemudahan pelaporan

Pekerjaan pelaporan adalah pekerjaan yang menyita waktu namun sangat penting. Dengan adanya SIM, proses pelaporan hanya memakan waktu dalam hitungan menit sehingga kita dapat lebih konsentrasi untuk menganalisa laporan tersebut.

c. Manfaat Manajerial

Kecepatan mengambil keputusan

Dengan sistem manual, manajer seringkali mengambil keputusan berdasarkan informasi yang mungkin sudah tidak relevan lagi. Belum lagi jika yang dibutuhkan adalah trend berdasarkan selang waktu tertentu (harian/mingguan/dsb), ini mengakibatkan keputusan yang diambil belum tentu sesuai dengan kondisi nyata. Namun dengan SIM, informasi yang disajikan bersifat real time, bahkan kita dapat membuat tabulasi dari informasi tersebut sehingga informasi yang kita dapat sudah sangat spesifik sesuai dengan kebutuhan kita.

Hal ini tentu saja meningkatkan kualitas keputusan kita, di samping tentu saja berkurangnya waktu untuk mengambil keputusan.

Akurasi dan kecepatan Identifikasi masalah

Karena laporan-laporan yang dihasilkan SIMRS memberi gambaran dari hari ke hari mengenai kinerja rumah sakit, maka jika ada hal-hal yang tidak normal dapat segera kita ketahui. Hal ini membuat identifikasi potensi masalah dapat dilakukan lebih dini, sehingga tindakan pencegahan atau penanggulangannya dapat segera disusun.

Kemudahan penyusunan strategi

Sejalan dengan identifikasi masalah di atas, kita pun dapat menyusun strategi ke depan berdasarkan data populasi, bukan lagi statistik, karena SIMRS mampu memberikan data populasi dengan selang waktu tertentu, bahkan menyajikan kecenderungan datanya kepada kita. Ini tentu saja semakin menajamkan strategi yang kita susun.

d. Manfaat Organisasi

Budaya Kerja

Karena SIMRS ini mensyaratkan kedisiplinan dalam pemasukan data, baik ketepatan waktu maupun kebenaran data, maka budaya kerja yang sebelumnya menangguhkan hal-hal seperti itu, menjadi berubah.

Hal ini dapat terjadi karena integrasi SIMRS dengan seluruh unit layanan. Sebagai contoh, jika unit registrasi tidak memasukkan data pasien yang akan berobat, maka unit layanan tidak mungkin dapat memasukkan layanan kepada pasien tersebut, dan kasir pun tidak mungkin menerima pembayaran dari pasien tersebut. Katakanlah semua unit sepakat untuk menangguhkan pemasukan datanya, maka keesokan harinya, manajer akan melihat penurunan trend pasien atau melihat ada pasien-pasien yang menggantung. Ada juga pengalaman menarik yang kami temukan dalam implementasi SIMRS di suatu Rumah Sakit, karena dasar perhitungan imbalan jasa medik untuk dokter dan perawat dihitung berdasarkan data transaksi yang ada di SIM, maka dokter yang berkepentingan dengan data tersebut menjadi supervisor data yang dimasukkan tanpa diminta. Implikasinya adalah, sedikit sekali data yang salah dimasukkan.

Transparansi

SIMRS sebaiknya dirancang menganut kebijakan data terpusat, artinya data-data yang digunakan oleh seluruh rumah sakit berada di bawah satu kendali. Misalnya untuk data tarif tindakan, unit layanan tidak boleh dan tidak bisa memasukkan atau mengubah tarif yang ada, data yang mereka masukkan hanya layanan yang diberikan kepada pasien sehingga manipulasi tarif tidak dimungkinkan. Hal lain lagi, pendapatan setiap unit layanan terlihat dari laporan harian yang selalu dilaporkan kepada direktur. Dengan demikian setiap orang dapat melihat jalannya proses transaksi di rumah sakit dan secara tidak langsung juga turut mengawasi proses tersebut.

Koordinasi antar unit (Team working)

Karena seringkali data yang digunakan oleh unit layanan tertentu adalah milik unit layanan yang lain, misalnya kode perusahaan pelanggan adalah milik keuangan yang digunakan secara intensif oleh medrec, maka ketika terjadi perubahan terhadap data tersebut, unit yang bersangkutan akan mengkoordinasikannya dengan unit yang terpengaruh. Apabila hal ini tidak dilakukan maka dengan sendirinya akan terjadi kekacauan data referensi.

Pemahaman sistem

Apabila dulu dengan sistem manual, sedikit sekali personel yang mengetahui atau perduli dengan proses yang terjadi di unit lain, maka dengan adanya SIMRS hal tersebut terjadi dengan sendirinya. Ini karena seringkali untuk memahami aliran data sampai datang kepada unitnya, melibatkan berbagai unit lain. Ketika terjadi kesalahan setiap user berusaha mencari tempat terjadinya kesalahan tersebut agar bukan unitnya yang disalahkan. Efeknya adalah mereka menjadi paham bagaimana sistem di rumah sakit tersebut bekerja.

Mengurangi biaya administrasi

Seringkali orang menyatakan bahwa dengan adanya komputerisasi biaya administrasi meningkat. Padahal dalam jangka panjang yang terjadi adalah sebaliknya, jika dengan sistem manual kita harus membuat laporan lebih dulu di atas kertas, baru kemudian dianalisa, maka dengan SIMRS analisa cukup dilakukan di layar komputer, dan jika sudah benar baru datanya dicetak. Hal ini menjadi penghematan yang cukup signifikan dalam jangka panjang.

Implementasi SIMRS tentunya tidak dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan semua pihak yang terkait serta political will dari pimpinan rumah sakit maupun pemilik RS / Pemerintah.

Apabila pekerjaan pengembangan SIMRS tersebut akan diserahkan kepada konsultan, maka kewajiban dan tanggung-jawab konsultan sebagai mitra kerja RS adalah harus secara profesional memberikan data dan analisa yang obyektif dan berupaya maksimal untuk keberhasilan implementasi SIMRS.

SISTIM INTEGRASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT ( SIMRS )

Manfaat SIMRS :


a. Manfaat Umum

Memberikan nilai tambah dengan meningkatkan:

  • Efisiensi
  • Kemudahan
  • Standard praktek kedokteran yang baik dan benar
  • Dokumentasi yang Auditable dan Accountable
  • Mendukung Pemasaran Jasa RS: Mutu, kecepatan, kenyamanan, kepastian, biaya, bahkan gengsi pelayanan
  • Meningkatkan profesionalisme dan kinerja manajemen rumah sakit
  • Mendukung koordinasi antar bagian dalam rumah sakit
  • Meningkatkan akses dan pelayanan rumah sakit terhadap berbagai sumber daya, antara lain mitra usaha potensial seperi Pedagang Besar Farmasi, JAMSOSTEK, Instansi/Perusahaan pemberi jaminan karyawannya, ASKES, dll
  • Meningkatkan profesionalisme manajemen rumah sakit:

1. Setiap unit akan bekerja sesuai fungsi, tanggung jawab dan wewenangnya;

a. Fungsi Pelayanan dan Informasi

b. Fungsi Perawatan (medical care)

c. Fungsi Penunjang/Supporting

d. Fungsi Administrasi dan Keuangan

e. Fungsi Pengawasan, dll

2. Mendukung kerja sama, keterkaitan dan koordinasi antar bagian / unit dalam rumah sakit.

Contoh:

  1. Unit Registrasi dengan Unit RM dalam hal Petugas RM dapat mengetahui secara real time pasien yang mendaftar di bag Registrasi.
  2. Unit Registrasi dengan Unit Rawat Jalan.
  3. Koordinasi antara Unit Rawat Jalan / Rawat Inap dengan Unit Apotik/Farmasi dalam hal Resep Online dan informasi lainnya.
  4. Koordinasi antara Unit Rawat Jalan / Rawat Inap dengan Unit Laboratorium, Radiologi, IBS, Gizi, Farmasi, dan Keuangan dan sebaliknya
  • Meningkatkan pendapatan rumah sakit.

b. Manfaat Operasional

Kecepatan

Manfaat yang paling terasa ketika SIMRS tersebut selesai diimplementasikan adalah kecepatan penyelesaian pekerjaan-pekerjaan administrasi. Ketika dengan sistem manual pengerjaaan tagihan kepada mitra/pihak ke-3, misalnya, memakan waktu sampai 1 bulan sejak pasien selesai dilayani, dengan SIMRS hanya memakan waktu 1-2 hari saja. Kecepatan ini tentu saja membuat efektifitas kerja meningkat. Pada awal pemasangan SIM, ketika aliran kerja belum lancar, peningkatan kecepatan belum terlalu terasa. Namun ketika komitmen seluruh unit untuk tepat waktu memasukkan data dengan akurasi entri data yang tinggi dipenuhi, maka akan terasa sekali dampak dari SIMRS terhadap kecepatan kerja.

Akurasi

Hal lain yang juga terasa berubah adalah akurasi data, apabila dulu dengan sistem manual orang harus mencek satu demi satu transaksi, namun sekarang dengan SIMRS hal tersebut cukup dilakukan dengan membandingkan laporan antar unit yang dihasilkan oleh SIM. SIMRS juga dapat mencegah terjadinya duplikasi data untuk transaksi-transaksi tertentu. Misalnya, pasien yang sama diregistrasi 2 kali pada hari yang sama, maka SIMRS akan menolaknya, SIMRS juga akan memberikan peringatan jika tindakan yang sama untuk pasien yang sama dicatat 2 kali, hal ini menjaga agar user lebih teliti.

Integrasi

Hal lain yang juga terasa berpengaruh terhadap budaya kerja adalah integrasi data di setiap unit. Bila dengan sistem manual, data pasien harus dimasukkan di setiap unit, maka dengan SIMRS data tersebut cukup sekali dimasukkan di pendaftaran saja. Hal ini jelas mengurangi beban kerja adminstrasi dan menjamin konsistensi data. Ilustrasi pada awal makalah ini merupakan gambaran proses integrasi pada beberapa unit layanan di rumah sakit.

Peningkatan pelayanan

Pengaruh SIMRS yang dirasakan oleh pasien adalah semakin cepat dan akuratnya pelayanan. Sekarang pasien tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan administrasinya, baik rawat inap ataupun rawat jalan. Hal yang sama juga dirasakan perusahaan pelanggan, dimana tagihan yang dikirim cukup akurat dan detil sehingga memudahkan analisa mereka.

Peningkatan Efisiensi

Bila sebelumnya, beban pekerjaan lebih ke arah klerikal, sekarang beban pekerjaan lebih ke arah analisa. Sebagai contoh, jika dahulu konsentrasi bagian penagihan adalah membuat tagihan, sekarang konsentrasinya lebih kepada umur tagihan itu sendiri. Selain itu, karena kecepatan dan akurasi data meningkat, maka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan administrasi berkurang jauh, sehingga karyawan dapat lebih fokus pada pekerjaan utamanya.

Tanpa SIM, perawat harus memasukan data standar asuhan keperawatan secara berulang-ulang dan sangat memakan waktu, tetapi dengan SIM, perawat hanya tinggal memasukan data diagnosa penyakit pasien, dan komputer yang akan mencetak laporan SAK untuk ditanda-tangani perawat.

Kemudahan pelaporan

Pekerjaan pelaporan adalah pekerjaan yang menyita waktu namun sangat penting. Dengan adanya SIM, proses pelaporan hanya memakan waktu dalam hitungan menit sehingga kita dapat lebih konsentrasi untuk menganalisa laporan tersebut.

c. Manfaat Manajerial

Kecepatan mengambil keputusan

Dengan sistem manual, manajer seringkali mengambil keputusan berdasarkan informasi yang mungkin sudah tidak relevan lagi. Belum lagi jika yang dibutuhkan adalah trend berdasarkan selang waktu tertentu (harian/mingguan/dsb), ini mengakibatkan keputusan yang diambil belum tentu sesuai dengan kondisi nyata. Namun dengan SIM, informasi yang disajikan bersifat real time, bahkan kita dapat membuat tabulasi dari informasi tersebut sehingga informasi yang kita dapat sudah sangat spesifik sesuai dengan kebutuhan kita.

Hal ini tentu saja meningkatkan kualitas keputusan kita, di samping tentu saja berkurangnya waktu untuk mengambil keputusan.

Akurasi dan kecepatan Identifikasi masalah

Karena laporan-laporan yang dihasilkan SIMRS memberi gambaran dari hari ke hari mengenai kinerja rumah sakit, maka jika ada hal-hal yang tidak normal dapat segera kita ketahui. Hal ini membuat identifikasi potensi masalah dapat dilakukan lebih dini, sehingga tindakan pencegahan atau penanggulangannya dapat segera disusun.

Kemudahan penyusunan strategi

Sejalan dengan identifikasi masalah di atas, kita pun dapat menyusun strategi ke depan berdasarkan data populasi, bukan lagi statistik, karena SIMRS mampu memberikan data populasi dengan selang waktu tertentu, bahkan menyajikan kecenderungan datanya kepada kita. Ini tentu saja semakin menajamkan strategi yang kita susun.

d. Manfaat Organisasi

Budaya Kerja

Karena SIMRS ini mensyaratkan kedisiplinan dalam pemasukan data, baik ketepatan waktu maupun kebenaran data, maka budaya kerja yang sebelumnya menangguhkan hal-hal seperti itu, menjadi berubah.

Hal ini dapat terjadi karena integrasi SIMRS dengan seluruh unit layanan. Sebagai contoh, jika unit registrasi tidak memasukkan data pasien yang akan berobat, maka unit layanan tidak mungkin dapat memasukkan layanan kepada pasien tersebut, dan kasir pun tidak mungkin menerima pembayaran dari pasien tersebut. Katakanlah semua unit sepakat untuk menangguhkan pemasukan datanya, maka keesokan harinya, manajer akan melihat penurunan trend pasien atau melihat ada pasien-pasien yang menggantung. Ada juga pengalaman menarik yang kami temukan dalam implementasi SIMRS di suatu Rumah Sakit, karena dasar perhitungan imbalan jasa medik untuk dokter dan perawat dihitung berdasarkan data transaksi yang ada di SIM, maka dokter yang berkepentingan dengan data tersebut menjadi supervisor data yang dimasukkan tanpa diminta. Implikasinya adalah, sedikit sekali data yang salah dimasukkan.

Transparansi

SIMRS sebaiknya dirancang menganut kebijakan data terpusat, artinya data-data yang digunakan oleh seluruh rumah sakit berada di bawah satu kendali. Misalnya untuk data tarif tindakan, unit layanan tidak boleh dan tidak bisa memasukkan atau mengubah tarif yang ada, data yang mereka masukkan hanya layanan yang diberikan kepada pasien sehingga manipulasi tarif tidak dimungkinkan. Hal lain lagi, pendapatan setiap unit layanan terlihat dari laporan harian yang selalu dilaporkan kepada direktur. Dengan demikian setiap orang dapat melihat jalannya proses transaksi di rumah sakit dan secara tidak langsung juga turut mengawasi proses tersebut.

Koordinasi antar unit (Team working)

Karena seringkali data yang digunakan oleh unit layanan tertentu adalah milik unit layanan yang lain, misalnya kode perusahaan pelanggan adalah milik keuangan yang digunakan secara intensif oleh medrec, maka ketika terjadi perubahan terhadap data tersebut, unit yang bersangkutan akan mengkoordinasikannya dengan unit yang terpengaruh. Apabila hal ini tidak dilakukan maka dengan sendirinya akan terjadi kekacauan data referensi.

Pemahaman sistem

Apabila dulu dengan sistem manual, sedikit sekali personel yang mengetahui atau perduli dengan proses yang terjadi di unit lain, maka dengan adanya SIMRS hal tersebut terjadi dengan sendirinya. Ini karena seringkali untuk memahami aliran data sampai datang kepada unitnya, melibatkan berbagai unit lain. Ketika terjadi kesalahan setiap user berusaha mencari tempat terjadinya kesalahan tersebut agar bukan unitnya yang disalahkan. Efeknya adalah mereka menjadi paham bagaimana sistem di rumah sakit tersebut bekerja.

Mengurangi biaya administrasi

Seringkali orang menyatakan bahwa dengan adanya komputerisasi biaya administrasi meningkat. Padahal dalam jangka panjang yang terjadi adalah sebaliknya, jika dengan sistem manual kita harus membuat laporan lebih dulu di atas kertas, baru kemudian dianalisa, maka dengan SIMRS analisa cukup dilakukan di layar komputer, dan jika sudah benar baru datanya dicetak. Hal ini menjadi penghematan yang cukup signifikan dalam jangka panjang.

Implementasi SIMRS tentunya tidak dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan semua pihak yang terkait serta political will dari pimpinan rumah sakit maupun pemilik RS / Pemerintah.

Apabila pekerjaan pengembangan SIMRS tersebut akan diserahkan kepada konsultan, maka kewajiban dan tanggung-jawab konsultan sebagai mitra kerja RS adalah harus secara profesional memberikan data dan analisa yang obyektif dan berupaya maksimal untuk keberhasilan implementasi SIMRS.

INTEGRASI PENGENDALIAN PINTU MASUK RUANG DENGAN SISTEM INFORMASI DATA DENGAN BANTUAN ALAT PEMBACA BARCODE

Di dalam integrasi pengendalian pintu masuk
ruang dengan sistem informasi data dan pembaca
barcode melibatkan hal-hal berikut:
·1. Alat pembaca barcode untuk memasukkan
kode akses ke komputer client.
·2. Komputer client untuk menjalankan program
aplikasi pengendalian pintu, menerima
masukan kode akses dari pembaca barcode,
penghubung ke data akses anggota di komputer
server database dan membuat laporan data
pengunjung yang memasuki pintu masuk
sekaligus mengolah dan membuat laporan data
pengunjung untuk dapat digunakan sebagai
data pemantauan dan evaluasi.
3. Komputer server database yang merupakan
tempat menyimpan seluruh data sistem
informasi termasuk data kode akses bagi
anggota.
·4. Sistem pintu masuk ruang terdiri dari
rangkaian driver/penggerak motor stepper atau
motor dc dan pintu masuk ruang yang digerakkan.